Kamis, 22 Desember 2016

Usaha sampingan mahasiswa
Servis accu
 Bagaimana memulainya:
1) Modal
a. Alat sentrum accu Rp. 350.000
b. Listrik & air Rp. 50.000
 c. Air accu Rp. 100.000
d. Larutan khusus accu runtuh Rp. 100.000
e. Selang kecil Rp. 3.000
f. Gayung Rp. 10.000
g. Sarung tangan safety Rp. 50.000
h. Masker Rp. 50.000
 i. Deterjen Rp. 50.000
Total modal  Rp. 763.000
2) Tempat : Rumah sendiri (jl. G.obos 12)
3) Pengembangan usaha : dikembangkan sendiri
4) Pengembalian modal
a. Untuk aki sepeda motor
- Ganti air + Sentrum Aki Rp. 20.000
- Servis accu runtuh Rp. 35.000 – 50.000
b. Untuk aki mobil - G
anti air + Sentrum aki Rp. 40.000 – 70.000
- Servis accu runtuh Rp. 100.000 – 250.000
Jenis usaha yang dipilih : “ servis accu”
Faktor yang perlu diperhatikan :
 a. Pembuangan bekas air accu (limbah)
 b. Keselamatan kerja
c. Listrik (apabila terjadi pemadaman listrik)
Merespon faktor-faktor:
a. Membuat tempat pembuangan limbah tersebut
b. BPJS kesehatan
c. Menyediakan generator (mesin listrik)

Jumat, 18 November 2016

laporan ppl 2

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga laporan observasi dan praktik pengalaman lapangan ini dapat penulis selesaikan tapat pada waktunya. Adapun penulisan laporan program pengalaman lapangan ini di maksudkan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengakhiri kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangkaraya Tahun Ajaran 2015/2016. Laporan ini dapat di selesaikan tentunya tidak lepas dari peran serta berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ibu Dra. Ruli Meiliawati.M.Pd, selaku Kepala UP3L FKIP UNIVERSITAS PALANGKA RAYA. 2. Pihak UP3L yang mengkoordinasi kegiatan dan mahasiswa PPL II. 3. Bapak Drs. M. Ramli M.Pd selaku kepala sekolah SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya. 4. Semua guru pamong yang telah banyak memberikan bimbingan, dorongan dan masukan bagi kami selama PPL. 5. Ibu Dra. Sri Wahyutami, M.Si selaku dosen pembimbing yang juga telah banyak membantu memberikan masukan dan juga dorongan bagi kami selama PPL. 6. Semua guru-guru dan staf tata usaha SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya, serta 7. Rekan- rekan mahasiswa PPL II yang telah memberikan masukan dan saran kepada saya. Penulis menyadari bahwa selama pelaksanaan PPL ini masih banyak terdapat kekurangan dan kekeliruan sebagaimana juga pada laporan ini. Oleh karenanya dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan tulisan ini. Demikian laporan ini penulis buat semoga bermanfaat bagi pembaca semua.Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih. Palangka Raya, Januari 2016 Praktikan, RAHMADAN NOR NIM : ACC 112 012 HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN (PPL-II) PADA SMA MUHAMMADIYAH 1 PALANGKA RAYA TAHUN AJARAN 2015/2016 Ditetapkan di : Palangka Raya Pada tanggal : Januari 2016 Praktikan, RAHMADAN NOR ACC 112 012 Menyetujui, Dosen Pembimbing Dra. Sri Wahyutami, M.Si NIP. 19580527 198303 2 001 Guru Pamong Astutik, S.Pd NIP. 19711218 200604 2 016 Mengetahui: Kepala SMA Muhammadiyah 1 Palangkaraya Drs. M. Ramli, M.Pd NIP. 19651110 199303 1 006 DAFTAR ISI HALAMAN i KATA PENGANTAR ii Lembar Pengesahana iv DAFTAR ISI v BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Praktik Pengalaman Lapangan 1 1.2 Tujuan Praktik Pengalaman Lapangan 2 1.3 Bidang Studi yang diajarkan 2 1.4 Tempat Praktik Pengalaman Lapangan 2 1.5 Manfaat Praktik Pengalaman Lapangan 18 BAB II PELAKSANAAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN 2.1 Masalah yang Dihadapi Selama Pelaksanaan PPL-II 20 2.1.1 Penyusunan RPP 20 2.1.2 Proses Pengajaran 20 2.1.3 Ekstrakurikuler 21 2.1.4 Hubungan Sosial Dengan Sekolah 21 2.1.5 Proses Bimbingan 21 2.2 Upaya Penanggulangan Masalah 22 2.2.1 Penyusunan RPP 22 2.2.2 Proses Pengajaran 22 2.2.3 Ekstrakurikuler 22 2.2.4 Hubungan Dengan Sekolah 22 2.2.5 Proses Bimbingan 22 BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3.1 Kesimpulan 24 3.2 Saran 25 LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Praktik Pengalaman Lapangan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya terutama mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Palangka Raya. Salah satu program pendidikan di Perguruan Tinggi adalah mendidik manusia agar mampu mengatasi ilmu pengetahuan dan teknologi, berjiwa penuh pengabdian serta memiliki tanggung jawab yang besar terhadap masa depan Bangsa dan Negara Indonesia dalam rangka melaksanakan TRI DARMA Perguruan Tinggi. Melalui kegiatan PPL secara tidak langsung dapat mengembangkan kreativitas dan kemampuan calon-calon guru, sehingga dapat menciptakan serta membentuk guru yang profesional, berkualitas, terampil, berwibawa, menguasai lapangan pendidikan sesuai dengan tujuan dan cita-cita pendidikan nasional Indonesia, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional seperti yang ditegaskan dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1989, berbunyi berikut : “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keoribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa (1:89)”. Untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional itu, peningkatan mutu pendidikan merupakan titik berat pembangunan dewasa ini. Sekolah merupakan lembaga formal yang diselenggarakan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Untuk itu yang memegang peranan penting di sini adalah guru sebagai tenaga pendidik/pengajar yang profesional, dimana hal itu telah diprogramkan dalam PPL. Pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dilatar belakangi oleh surat Keputusan Mendikbud RI, No.021/U/1982 dan peraturan pemerintah RI, No. 30 Tahun 1990. 1.2 Tujuan Praktik Pengalaman Lapangan Tujuan umum PPL untuk mahasiswa calon guru yaitu memberikan pengalaman pendidikan secara faktual sehingga akan terbentuk kependidikan yang profesional yaitu tenaga pendidik yang memiliki seperangkat pengetahuan keterampilan dan sikap yang diperlukan bagi profesinya serta mampu menerapkan/memperagakan kinerja dalam situasi nyata, baik dalam kegiatan mengajar maupun tugas-tugas keguruan lain. Tujuan khusus PPL adalah : 1 Mengenal secara cermat lingkungan fisik, administratif, akademik dan sosial psikologi sekolah tempat pelatihan berlangsung. 2 Menguasai berbagai keterampilan dasar mengajar. 3 Menerapkan berbagai keterampilan professional keguruan secara utuh dan terpadu dalam situasi nyata. 4 Mampu mengembangkan aspek pribadi dan sosial lingkungan sekolah. 5 Menarik kesimpulan edukatif dari penghayatan dan pengalamannya selama pelatihan melalui refleksi, menuangkan hasil refleksi itu dalam hasil laporan. 1.3 Bidang Studi Yang Di Ajarkan Dalam pelaksanaan Program Pangalaman Lapangan ini bidang studi yang diajarkan oleh praktikan adalah Mata Pelajaran Kimia untuk SMA/Sederajat Kelas XI. 1.4 Tempat Praktik Pengalaman Lapangan Pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan yang dijalankan praktikan dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya. Adapun profil sekolah SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya secara umum adalah sebagai berikut : Adapun hasil observasi yang dilakukan di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 1 Palangka Raya, Jl. RTA. Milono KM 1,5 Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut : a. Observasi Fisik Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 1 Palangka Raya mempunyai bangunan permanen, berlantai beton dan beratap multiroof, serta halaman yang dilapisi dengan paving stone. b. Observasi belajar mengajar di kelas Observasi ini bertujuan agar mahasiswa mendapat pengetahuan dan pengalaman mengenai tugas guru, dalam hal ini mahasiswa mengikuti guru pamongnya saat mengajar di dalam kelas serta mendiskusikan strategi apa yang digunakan dalam mengajar. c. Sejarah Sekolah Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 1 Palangka Raya merupakan suatu lembaga formal yang didirikan oleh Yayasan Muhammadiyah atau pengurus Muhammadiyah pada tanggal 12 Desember 1977. Berdasarkan akta pendiriannya SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya Pusat/COM/Majelis Pendidikan dan Kebudayaan. Secara resmi berdirinya terdapat pada nomor : 41154/11-1/KGT-77-1983 dengan status diakui pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Setelah berkiprah bersama lembaga pendidikan yang lain dalam rangka mencerdaskan bangsa, SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya terus berkembang dari status diakui dan mencapai jenjang Akreditasi DISAMAKAN berdasarkan surat keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor : 011/C/Kep/1/1989 tanggal 1 Februari 1989. Pasang surut selama sekolah ini berdiri telah mengalami pergantian pimpinan kepala sekolah, sebagai berikut : NAMA PERIODE TUGAS 1. Drs. H. RINCO NORKIM Tahun 1977 s/d 1975 2. Drs. A.A.GHANI Tahun 1979 s/d 1984 3. Ir. H. SYAHRIL SAMAD Tahun 1984 s/d 1986 4. DRS.H. BAHRUDDIN HM Tahun 1986 s/d 1988 5. SUTATI,BA Tahun 1988 s/d 1993 6. Drs. H. MUCHTAR Tahun 1993 s/d 1997 7. Drs. H. MARWAN SJUKUR Tahun 1997 s/d 1998 8. Drs.H.SOETOTO ADIWINARNO M.Pd Tahun 1998 s/d 2003 9. SUBARI, BA Tahun 2003 s/d 2009. 10. Drs. M. RAMLI, M.Pd Tahun 2009 s./d sekarang Sampai dengan saat ini status sekolah telah mengalami perubahan sebagaimana SK berikut : Status : Disamakan sesuai dengan keputusan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah No. 011/C/Kep/I/1989tanggal :1 Pebruari 1989. : AKREDITASI A berdasarkan Surat Keputusan Badan Akreditasi Sekolah Propinsi KalimantaTengah Nomor : 34/Bas.Prov/ktg/VII/05Tanggal 31 Juli 2005. : Tahun 2010 sebagai sekolah Standar Nasional d. Aktivitas Peserta Didik Kegiatan atau aktivitas peserta didik dirancang oleh pihak sekolah yang meliputi beberapa kegiatan antara lain : 1. Kegiatan Kelompok Belajar Kegiatan kelompok belajar ini dikoordinir langsung oleh beberapa guru kelas masing-masing. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemantapan peserta didik dalam belajar. 2. Implementasi Al –Islam dan Kemuhammadiyahan Implementasi nilai keIslaman dan Kemuhammadiyahan dilakukan terhadap semua warga sekolah diantaranya melalui : Kurikuler :  4 jam pelajaran Agama Islam dan 2 jam mata pelajaran Kemuhammadiyahan  Pembinaan Agama dan kemuhammadiyahan pada Pengajian rutin siswa dan guru serta staf.  Pelaksanaan Upgrade Guru perihal Kemuhammadiyah , Baitul Arqom 1 tahun sekali. Sholat Ied dan Pemotongan Sapi Qurban 3. Kegiatan Olahraga Kegiatan ekstrakurikuler dibimbing dan dikoordinir oleh guru bidang studi Penjaskes yang dibantu oleh guru kelas. Kegiatan ini antara lain : senam, gerak jalan, lomba lari, sepak bola, volley dan taekwondo. Selain kegiatan olahraga ini masih ada kegiatan ekstrakurikuler lainnya, seperti : pramuka, PMR, dan Paskibraka. e. Pengelola Administrasi Sekolah Administrasi sekolah ialah keseluruhan proses yang mempergunakan dan mengikutsertakan semua sumber potensi yang tersedia serta sesuai, baik untuk personal maupun material dalam usaha untuk mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien. SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya mempunyai kegiatan administrasi yang dipimpin dan dikoordinator oleh Kepala Sekolah serta dibantu oleh tenaga pengajar lainnya dalam mengelola administrasi sekolah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat personil dan pelaksanaan tugasnya: 1. Kepala Sekolah Kepala Sekolah dapat dikatakan sebagai administrator sekolah karena Kepala Sekolah berfungsi sebagai perencana, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengawasi seluruh kegiatan pendidikan sekolah. Tugas pokok Kepala SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya antara lain : a. Urusan Akademik Pengajaran, meliputi : - Bidang akademik bersama berkenaan dengan proses belajar mengajar - Bidang Keuangan - Bidang Kesiswaan - Bidang personalia dan kepegawaian - Bidang Sarana dan Prasarana b. Urusan Kesiswaan dan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat, meliputi : - Menerima peserta didik baru - Pengisian data peserta didik ke buku induk - Membimbing, mengarahkan dan membina peserta didik - Mengawasi dan mengarahkan kegiatan ekstrakurikuler serta intrakurikuler - Mempromosikan keadaan SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya - Membina hubungan baik antara sekolah dan masyarakat c. Urusan Keuangan, meliputi : - Mengambil dan membagikan gaji guru - Menangani uang simpan pinjam arisan - Menyiapkan usulan kenaikan pangkat - Meneliti kenaikan gaji dan pangkat d. Urusan bidang subsidi biaya, meliputi : - Menerima dan membukakan uang BP3 - Membelanjakan uang BP3 - Membagikan uang kesejahteraan - Membuat pertanggung jawaban keuangan e. Urusan biaya operasional, meliputi : - Merencanakan penggunaan Biaya Operasional Sekolah (BOS) - Membuat pertanggung jawaban Biaya Opersional Sekolah (BOS) Kegiatan Praktik Keguruan Dalam tahap kegiatan ini dilakukan sebagai berikut : a. Kegiatan Praktik Mengajar Kegiatan praktik mengajar ini adalaah suatu kegiatan yang dilakukan oleh calon guru agar memiliki pemahaman dan pengetahuan yang factual dalam mengajar, kegiatan praktek mengajar dilaksanakan sebanyak 12 kali pertemuan atau tatap muka. b. Kegiatan Persiapan Mengajar Kegiatan membuat persiapan mengajar atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran wajib dibuat sebelum melaksanakan praktek mengajar, kemudian dikonsultasikan dengan supervisor I (guru pamong) dan supervisor II (dosen pembimbing). c. Kegiatan Dasar Keterampilan Mengajar Kegiatan dan dasar keterampilan mengajar memang diupayakan untuk ditingkatkan mengingat kegiatan ini baru diterapkan, sehingga pelaksanaannya masih belum sebagaimana yang diharapkan.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam lembar observasi dan dasar keterampilan yang dinilai dan diamati oleh masing-masing penilai atau guru pamong yang dapat dilihat pada keterampilan. Kegiatan Praktik Non Keguruan Kegiatan praktek non keguruan bertujuan untuk memperkenalkan kepada calon guru secara langsung dan memperluas wawasannya tentang berbagai aspek kegiatannya serta mekanisme pengelolaannya.Studi pengelolaan sekolah adalah bagian integral dari kegiatan praktek keguruan yang berupa pengenalan berbagai aspek kegiatan praktek non keguruan dan mekanisme pengelolaan dari segi edukatif maupun dari administrasinya di bawah bimbingan dan koordinasi kepala sekolah. Studi pengelolaan sekolah dilaksanakan secara terintegrasi dimulai kegiatan PPL sampai akhir sebagai berikut : a. Kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler untuk data hasil observasi terlampir b. Sosial dan kultur sekolah c. Integrasi sekolah d. Hubungan sekolah dengan masyarakat Adapun kegiatan tersebut meliputi: a. Struktur Organisasi SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya, meliputi: 1. Kepala Sekolah Sebagai penanggung jawab pelaksanaan pendidikan dan administrasi sekolah, dan juga sebagai perencana, pengorganisasian, pengawas dan pengevaluasian seluruh proses pendidikan. 2. Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulurn Membantu dan mewakili kepala sekolah dalam melaksanakan tugas yang berhubungan dengan kurikulum. 3. Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan Membantu dan mewakili kepala sekolah dalam melaksanakan tugas yang berhubungan dengan siswa. 4. Koordinator Tata Usaha Membantu kepala sekolah dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan administrasi kepegawaian, siswa mengurus administrasi keuangan, perpustakaan, dan investarisasi pelaksanaan proses belajar mengajar disekolah. 5. Petugas BK Memberikan bimbingan dan layanan terhadap siswa yang mempunyai kesulitan dan permasalahan dalam bidang pribadi, belajar, sosial dan karier. 6. Wali kelas Bertanggung jawab mengelola kelas dan mengkoordinator kegiatan yang berlangsung di kelas. 7. Dewan Guru Membimbing siswa dalam proses belajar mengajar. 8. Siswa Belajar dan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh sehingga proses belajar mengajar berlangsung dengan baik. b. Profil Sekolah 1. Profil Sekolah a. Identitas Sekolah 1. Nama sekolah : SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya 2. Alamat : Jl. RTA. Milono KM 1,5 3. Kelurahan : Langkai 4. Kecamatan : Pahandut 5. Kabupaten/Kota : Palangka Raya 6. Provinsi : Kalimantan Tengah 7. No. Telp : 0536 3222717 8. E-Mail : sma.muhammadiyah77@yahoo.com b. Nama Yayasan : Perserikatan Muhammadiyah 1. Alamat Yayasan Pusat : Jl. Menteng Raya No. 62 Jakarta Pusat 2. Daerah : Jl. RTA. Milono KM 1,5 Palangka Raya 3. Telp : 0536 3222184 4. NNS : 202140606018 5. Jenjang Akreditasi : A 6. Tahun Pendirian : 1977 7. Tahun Beroperasi : 1983 8. Kepemilikan Tanah : Milik Perserikatan Muhammadiyah 9. Status Tanah : Sertifikat Hak Milik (SHM) 10. Luas Tanah : 20.600 m2 11. Luas Seluruh Tanah SMA : 972 m2 12. Status Bangunan : Milik Perserikatan Muhammadiyah c. Identitas Kepala Sekolah 1. Nama : Drs. Ramli, M.Pd 2. NIP : 19651110 199303 1 006 3. Pendidikan Terakhir : Magister (S – 2) 4. Alamat Kantor : Jl. RTA. Milono KM 1,5 c. Visi dan Misi Sekolah 1. Visi : unggul dalam iptek dan imtaq, berakhlakul karimah dalam lingkungan sehat, tertib, aman dan penuh kekeluargaan. 2. Misi : a. Mewujudkan Sumber daya Insani yang berkualitas, berwawasan keislaman dan keindonesiaan. b. Mengaktualisasikan nilai-nilai Keislaman dan keindonesiaan c. Memberdayakan seluruh potensi guna membekali peserta didik Ilmu pengetahuan dan mental untuk bekal pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan dalam kehidupan bermasyarakat. d. Menciptakan lingkungan belajar yang sehat, tertib, indah, aman dan penuh kekeluargaan. d. Data siswa tahun ajaran 2013/2014 NO RUANG JUMLAH PESERTA DIDIK TOTAL JUMLAH KELAS L P 1 X -1 12 10 22 2 X -2 11 11 22 3 X -3 10 14 24 4 X -4 8 14 22 5 X -5 14 9 23 6 XI IPA-1 8 15 23 7 XI IPA-2 10 12 22 8 XI IPA-3 9 15 24 9 XI IPS-1 12 10 22 10 XI IPS-2 12 9 21 11 XII IPA-1 8 20 28 12 XII IPA-2 9 19 28 13 XII IPS-1 12 6 18 14 XII IPS-2 9 12 21 JUMLAH 144 176 320 e. Prestasi 1. Lomba Pidato, Juara I Tingkat Kota Palangkaraya 2. Lomba MTQ, Juara I Tingkat Kota Palangkaraya 3. Lomba mengarang Lingkungan Hidup, Juara II Tingkat Kota Palangkaraya 4. PMR Juara 2 Putra Putri Tingkat Wira Kota Palangkaraya 5. Juara I Senam Poco-poco Tk. SMU Palangka Raya. 6. Juara II Volly Ball Tk. SMU. 7. Juara II Lomba Apresiasi Puisi tingkat Kota Palangka Raya 8. Juara I POPKOT dan POPDA Cabang Pencak Silat Tahun 2006,2007 9. Juara Pidato B. Inggris STAIN Palangka Raya 10. Juara I,II,III Pencak Silat Tingkat SMA Kota Palangka Raya 2007 11. Juara harapan III Lomba Tata Upacara Tingkat Kota Palangka Raya 2007 12. Juara II Dapur Umum Kemah Wira PMR Kota Palangka Raya 2007 13. Juara Umum II POP Kota Palangka Raya 2008 14. Juara I Lomba Mengarang tema NARKOBA Telkomsel Kalteng 2008 15. Juara III Olimpiade Olah Raga Nasional Cab. Pencak Silat Th 2008 16. Juara I,II,III Cab Pencak Silat Kej. Pencak Silat Perg. Tapak Suci 2008 17. Juara II dan III @ Olimpiade Science Kota Palangka Raya Th. 2008 18. Juara II Lomba Debat Bahasa Inggris Tk. SMA Se Kalimantan Tengah.2008 19. Juara Umum Hari Bahasa ( pidato, puisi, musikalisasi ) Tk, Kota P. Raya tahun 2011 dan 2012 20. Juara 2 dan 3 Pasang tandu dan P3K PMR sekota Palangka raya 2012 21. Juara i Lomba Baris Berbaris Paskibra Kota Palangka Raya Tahun 2012 22. Juara Umum Kejuaraan PencakSilat Walikota Palangka Raya Tahun 2013 23. Juara 1 salah satu Cabang Pencak silat putra O2OSN Kalteng 24. Finalis O2SN Nasional 25. Juara I Pencak Silat Putri O2 SN Kota P, Raya 26. Juara III Karate O2OSN Kota P raya 27. Juara 2,3 Cabang Lomba PMR Kota Palangka Raya 28. Juara Praktikum Biologi ,Tk Kalteng IAIN Palangka Raya f. Sarana Pendukung No Nama Alat Jumlah satuan Keterangan 1 Meja Guru – karyawan 48 Buah 3 rusak 2 Kursi Guru-karyawan 58 kayu, 12 besi Buah 10 rusak 3 Almari kantor ( kayu) 13 Buah Baik 4 Almari filling cabinet 2 Buah Baik 5 Almari kantor ( besi) 15 Buah Baik 6 Almari pajang 5 Buah Baik 7 Sofa 3 Set 1 set rusak 8 Rak buku 8 Buah Baik 9 Meja dapur 1 Buah Baik 10 Peralatan makan minum 2 Set Baik 11 Taplak hidangan 3 Set Baik 12 Televisi 2 Buah Baik 13 Komputer Pentium IV 15 Buah Baik 14 Printer 7 Buah 2 rusak 15 Sepeda motor Loncini 1 Buah Rusak 16 G. Presiden dan wapres 2 Set Baik 17 G. Panji Muhammadiyah 1 Set Baik 18 G. Gubernur-wakil 1 Set Baik 19 Papan Data 13 Buah Baik 20 Vas bunga 10 Buah Baik 21 Papan Tulis White board 14 Buah Baik 22 Papan Blackboard 18 Buah Baik 23 Jam dinding 7 Buah 2 rusak 24 Piala kejuaraan, medali 1 alamari Diinven khusus 25 Wireless 2 Buah 1 rusak 26 Laptop (Note Book ) 5 Buah 3 baik, 2 rusak 27 LCD 10 Buah 7 baik, 3 rusak 28 Layar LCD 4 Buah 3 baik,1 rusak 29 Pengeras suara-mic 3 Set Baik 30 Tangkai mic 2 Buah Baik 31 Amplifier- multifungsi 2 Buah Baik 32 Radio/tape 3 Buah Baik 33 Mesin TIK 3 Buah 2 rusak 34 Mesin stensil 1 Buah Non operasional 35 Mesin hitung /calculator 2 Buah Baik 36 Almari kaca 1 Buah Baik 37 Almari alat absen 1 Buah Baik 38 Alat / perangkat sholat 10 Buah seb. Dimasjid 39 Seragam Basket 1 Tim P. Mustakim 40 Seragam Volly Ball 1 Tim P. Mustakim 41 Seragam Sepak Bola 1 Tim P. Rusdy 42 Alat sedot debu 1 Buah Baik 43 Timbangan Badan 2 Buah 1 rusak 44 Bola Volly 10 Buah 8 pecah. Bocor 45 Bola Basket 5 Buah 3 bocor 46 Bola Sepak 10 Buah 8 bocor 47 Alat latihan bola 1 Set Baik 48 Starting lari 1 Set Baik 49 Net Volly, badminton 2 Set Baik 50 Bed-net pingpong 1 Set Baik 51 Tali besar plastic 20 meter Baik 52 Mistar roll 1 Buah Baik 53 Tensi meter 1 Buah Baik 54 Papan Pengumuman 3 Buah Baik 55 Maj. Dinding / peng. 5 Buah 1 rusak 56 Bendera merah putih 3 Buah 1 rusak 57 P. OSIS,Muhammadiyah 3 Buah Baik 58 Bendera latihan 2 Buah 1 rusak 59 Kereta Dorong/sampah 1 Buah Baik 60 Kipas angina 8 Buah Baik 61 Speedy Internet 1 instalasi Baik 62 Seragam Paskibraka 1 Set Baik 63 Tiang bendera halaman 2 Buah Baik 64 Mimbar, podium 2 Buah 1 rusak 65 Pesawat Telepon 1 Buah Baik 66 Kompor,listrik 3 Buah Baik 67 Dispenser 2 Buah 1 rusak 68 Kotak P3K 2 Buah Baik 69 Meja / kursi piket 1 Buah Baik 70 Inst. PDAM 1 Unit Baik 71 Ins. PLN,5000, 12000 kWh 2 Unit Baik 72 Ins. Telepon Dan Faxs 1 Unit Baik 73 Kursi dan meja siswa 520 Set 20 rusak 74 Salon/peng. Suara 7 Buah Baik 75 Ins dan Mesin Air 1 Buah Baik 76 Alat Pemadam Kebakaran 2 Buah Baik 1.5 Manfaat PPL-II Adapun manfaat dari pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan ini sendiri bagi praktikum adalah : 1. Memberikan pengalaman bagi mahasiswa mengenali lingkungan fisik, administratif, akademik dan sosial psikologis sekolah tempat pelatihan berlangsung. 2. Mahasiswa dapat mengasah keterampilan mengajarnya baik dengan berbagai metode pembelajaran. 3. Mampu menerapkan berbagai kemampuan profesional keguruan secara utuh dan terpadu dalam situasi nyata. 4. Mampu mengembangkan aspek pribadi dan sosial di lingkungan sekolah. 5. Mampu menarik kesimpulan eduktif dari pengalaman selama pelatihan melalui refleksi itu dalam suatu laporan. BAB II PELAKSANAAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN 2.1 Masalah yang Dihadapi Selama Pelaksanaan PPL-II 2.1.1 Penyusunan RPP Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah perangkat awal yang menjadi acuan mahasiswa praktikan PPL-II ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Dalam hal ini penyusunan RPP sendiri disusun berdasarkan dengan silabus yang dimiliki oleh guru pamong dengan memperhatikan juga program pengajaran yang dimiliki oleh guru pamong berdasarkan kurikulum yang berlaku di sekolah SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya. Masalah atau kendala dalam penyusunan RPP itu sendiri, secara pribadi tidak terlalu banyak ditemui oleh praktikum atas bimbingan yang baik dari guru pamong dan dosen pembimbing PPL-II. Sedikit kendala yang dihadapi dalam pembuatan RPP adalah dalam pembuatan langkah-langkah pengajaran yang baik sehingga bisa menarik minat siswa untuk antusias dalam mengikuti pembelajaran, baik itu di dalam kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. 2.1.2 Proses Pengajaran Proses pengajaran di kelas adalah kegiatan utama dalam pelaksanaan PPL-II ini karena inilah yang merupakan tujuan utama dari pelaksanaan PPL-II itu sendiri. Proses pengajaran terdiri dari sembilan kali pelatihan yang terhitung dengan menggunakan RPP serta terdapat proses mengajar diluar pelatihan yang terhitung menggunakan RPP ditambah dengan Ujian PPL-II. Untuk pertama kali praktikan mengalami masalah dalam pengelolaan kelas agar kondisi kelas tetap kondusif dan siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Untuk pertemuan selanjutnya tidak banyak ditemui kendala yang berarti karena praktikan sudah bisa menyesuaikan dengan kondisi kelas sehingga mudah melaksanakan proses pengajaran. 2.1.3 Ekstrakurikuler Ekstrakurikuler adalah kegiatan non akademik yang dimiliki sekolah namun pelaksanaanya masih di dalam ruang lingkup sekolah serta diawasi dan dibina oleh sekolah. Dimana disini sekolah memiliki beberapa kegiatan ektrakurikuler antara lain seperti :HW (Hizwuj Wathan), PMR, OSIS, Pencak Silat, dan lain-lain. Banyak kegiatan ekstrakurikuler yang dimiliki sekolah SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya, sehingga membuat praktikan sulit untuk mengikuti kegiatan mana yang dapat dibantu dalam pembimbingannya karena juga memang bukan bidang yang dikuasai oleh praktikan. Jadi pada kegiatan ekstrakurikuler ini mahasiswa praktikan tidak terlalu banyak terlibat di dalamnya. 2.1.4 Hubungan Sosial Dengan Sekolah Hubungan sosial dengan sekolah menjadi salah satu hal yang penting dalam melaksanakan kegiatan PPL-II karena dengan melaksanakan hubungan ini mahasiswa praktikan bisa dekat dengan dengan seluruh aparatur sekolah baik Kepala Sekolah, Staf TU, Guru dan Siswa. Melalui hubungan ini juga akan membuat praktikan bisa beradaptasi dengan baik di sekolah yang akhirnya akan membuat pelaksanaan dari PPL-II ini sendiri dapat berjalan dengan lancar. Dalam menjalin hubungan sosial sendiri praktikan tidak terlalu mengahadapi masalah dikarenakan pihak sekolah yang menerima baik seluruh mahasiswa PPL-II yang ada, sehingga membuat mahasiswa bisa cepat akrab dan beradaptasi. 2.1.5 Proses Bimbingan Selama melaksanakan PPL-II mahasiswa praktikum melaksanakan yang namanya bimbingan dengan guru pamong dan dosen pembimbing PPL-II untuk pembuatan RPP serta berbagai hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Dalam hal ini tidak terdapat permasalahan yang begitu berarti dalam proses pembimbingan karena semuanya dapat berjalan dengan lancar hingga akhirnya praktikan bisa menyelesaikan kegiatan PPL-II di SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya. 2.2 Upaya Penanggulangan Masalah 2.2.1 Penyusunan RPP Upaya yang dilakukan dalam menanggulangi masalah dalam penyusunan RPP tadi yaitu dengan bimbingan dan konsultasi yang baik antara mahasiswa praktikum dengan guru pamong dan dosen pembimbing akhirnya masalah ini bisa dipecahkan. Mahasiswa praktikum mendapat arahan dan bimbingan dalam menentukan langkah-langkah pengajaran setiap pelatihan yang dilaksanakan termasuk ujian sehingga kegiatan belajar mengajar di kelas pun akhirnya dapat berjalan dengan lancar. 2.2.2 Proses Pengajaran Masalah yang dihadapi dalam proses pengajaran adalah cara/metode penguasaan kelas yang digunakan dalam mengajar sehingga mempermudah penyampaian materi. Tetapi solusi yang dapat di gunakan oleh praktikan dengan mengajak siswa belajar sambil bermain dan bercerita agar siswa tidak merasa bosan dan mengantuk. 2.2.3 Ekstrakurikuler Dalam kegiatan ekstrakurikuler selama pelaksanaan PPL-II semua mahasiswa praktikum menyesuaikan dengan kondisi yang ada di sekolah, ketika mendapat perintah untuk membantu membina atau membimbing siswa dalam kegiatan proses mengajar di ruangan, sesuai perintah dan jadwal yang diberikan mahasiswa praktikum melaksanakannya sesuai jadwal yang ada, namun pada pelaksanaanya mahasiswa praktikum tidak terlalu terlibat pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. 2.2.4 Hubungan Dengan Sekolah Seperti yang dijelaskan pada pembahasan sebelumnya dalam hal hubungan dengan sekolah tidak terlalu ada masalah yang dihadapi dikarenakan mahasiswa praktikum bisa berbaur dan diterima oleh semua aparatur sekolah dengan baik sehingga menciptakan hubungan yang harmonis. Pada akhirnya mendukung atau memotivasi mahasiswa praktikum untuk benar-benar melaksankan kegiatan PPL-II dengan baik. 2.2.5 Proses Bimbingan Sama halnya dengan proses hubungan dengan sekolah, dalam proses bimbingan kegiatan PPL-II sendiri tidak ditemui masalah yang dapat mempersulit praktikan. Semua proses bimbingan dari awal sampai akhir semuanya dapat berjalam dengan lancar sehingga tercipta mahasiswa praktikum yang siap untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil observasi yang telah kami lakukan di SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya yang kemudian disusun dalam bentuk laporan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah suatu program yang mempersyaratkan kemampuan aplikatif terpadu dari keseluruhan pengalaman belajar sebelumnya ke dalam praktik pelatihan berupa kinerja dalam suatu hal yang berkaitan dengan jabatan keguruan. 2. Kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya memiliki rangkaian sebagai berikut : a. Kegiatan Pengenalan Lapangan b. Kegiatan Praktik Mengajar c. Kegiatan Praktik Non Keguruan 3. SMA Muhammdiyah 1 Palangka Raya berdiri pada tanggal 12 Desember 1977 dan memiliki bangunan sendiri sebagai tempat melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar. 4. Jumlah tenaga pengajar di SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya cukup memadai dan pengalaman dalam bidang mengajar serta menjamin terselenggaranya kegiatan belajar mengajar. 5. SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya memiliki sistem pendidikan yang cukup baik. Proses belajar mengajarnya pun berlangsung normal dengan didukung oleh sarana dan prasarana yang cukup memadai. 6. Kegiatan administrasi peserta didik, guru, pegawai dan ketatausahaan berjalan dengan baik di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah sehingga tercipta sistem manajemen yang baik dan hubungan sosial yang harmonis. 3.2 Saran Sehubungan dengan pelaksanaan observasi, maka perlu kita perhatikan bersama adalah : 1. Disiplin dan tata tertib yang telah dilaksanakan agar dapat dipertahankan dan lebih ditingkatkan lagi. 2. Hendaknya alat-alat peraga dapat dimanfaatkan sebaik mungkin dalam rangka menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang optimal. 3. Tingkatkan dan salurkan potensi yang ada di dalam diri peserta didik untuk meraih prestasi sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. 4. Bagi guru dan staf pengajar agar dapat senantiasa memberikan bimbingan dan motivasi belajar untuk peserta didik agar selalu bersemangat dan bergairah dalam belajar. 5. Mutu pendidikan SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya yang telah ada perlu ditingkatkan lagi untuk mencetak hasil pendidikan yang berkualitas dan memiliki kepribadian yang berakhlak mulia dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Senin, 14 November 2016

mari berwirausaha

PERENCANAAN WIRAUSAHA BERSAMA Usaha yang Diambil : “Pangkas Rambut Pria” Lokasi/Tempat : Jl. G. Obos XII Peluang Usaha : Kebutuhan akan penampilan yang baik dan rapi merupakan sesuatu hal yang selalu diperhatikan oleh setiap pria. Salah satu penampilan yang selalu diperhatikan adalah rambut. Ditambah dengan zaman modern seperti sekarang yang sudah banyak model tatanan rambut yang bisa menjadi pilihan bagi semua umur. Dari segi lokasi, Jl. G. Bos XII merupakan lokasi yang cukup strategis. Karena mudah diakses dekat dengan area sekolah, pasar dan perguruan tinggi. Dimana suasana lokasi usaha merupakan jalur lalu lintas yang ramai. Perencanaan Biaya : Kursi Rp 100.000,00 Listrik & Air Rp 50.000,00 Sewa Tempat Rp 300.000,00 Silet & Bedak Rp 50.000,00 Meja Rp 200.000,00 Kaca Rp 200.000,00 Mesin Cukur Rp 350.000,00 Gunting Rp 50.000,00 + Total Rp 1.300.000,00 Pengembangan Usaha : Dikembangkan secara bersama-sama Pengembalian Modal : Jasa potong 15 orang : Rp. 10.000,00 x 15 x 30 hari = Rp 4.500.000,00 Keuntungan Per Bulan : Rp. 4.500.000,00 - Rp. 1.300.000,00 = Rp 3.200.000,00 Proses Pengembangan Usaha : Membuat spanduk didepan lokasi untuk menarik perhatian orang-orang bahwa kita telah membuka usaha pangkas rambut. Agar banyak orang bisa mengetahui lokasi pangkas rambut yang kita kembangkan, bisa melewati sosial media yang sedang ramai digunakan contohnya : facebook, blackberry messengger dan instagram. Menawarkan paket, 5 x pangkas rambut gratis potong rambut 1 x untuk kupon yang sama.

penelitian wadi ikan nila dengan metode kjedhal

PERBEDAAN KADAR PROTEIN IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS ) SEGAR DAN BERDASARKAN CARA PENGGOLAHAN WADI (VARIASI LAMA WAKTU PENYIMPANAN WADI) DENGAN METODE KJEDAHL Rahmadan Nor Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Pendidikan MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya e-mail : rahmadannor1994@yahoo.com ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang Perbedaan Kadar Protein Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Segar dan Berdasarkan Cara Pengolahan Wadi (Variasi Lama Waktu Penyimpanan Wadi) Dengan Metode Kjedahl. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar protein ikan nila segar dengan menggunakan bahan pengawet alami wadi dengan variasi lama waktu penyimpanan wadi. Pembuataan Ikan wadi dibuat dengan menggunakan garam dan samu. Penentuan metode cara variasi lama waktu yang dilakukan dengan 4 perbedan variasi waktu, yaotu wadi ikan disimpan selama 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, dan 4 minggu yang dianalisis dengan metode Kjeldhal untuk mengetahui kadar proteinnya. Sebelum disimpan ikan nila harus direndam pada selama 24 jam, kemudian di rendam dengan samu sesuai dengan waktu yang digunakan untuk meneliti. Hasil penelitian terhadap ikan nila segar dan pengolahan wadi diperolh kandungan protein rata-rata ikan nila segar yang dioven 34,83%, wadi ikan nila pada waktu 1 minggu 22,11%, wadi ikan nila pada waktu 2 minggu 23,94%, wadi ikan nila pada waktu 3 minggu 24,58%, wadi ikan nila pada waktu 4 minggu 26,04%. Kata kunci : Metode Kjeldahl, Ikan Nila, Kadar Protein, Wadi Nila. DAFTAR ISI Halaman ABTRAK HALAMAN PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI i BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah 3 1.3 Batasan Masalah 3 1.4 Tujuan Penelitian 4 1.5 Manfaat Penelitian 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 2.1 Analisis 5 2.2 Kadar 5 2.3 Protein 5 2.4 Ikan 5 2.5 Ikan Nila (Oreochromis niloticus) 5 2.6 Pengawetan Wadi 8 2.7 Metode Kjeldhal 9 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 13 3.1 Alat dan bahan 13 3.2 Langkah Kerja 13 BAB IV HASIL PENELITIAN 18 4.1 Data Hasil Penelitian 18 4.2 Pembahasan Hasil Penelitian 19 BAB V PENUTUP 26 5.1 Kesimpulan 26 5.2 Saran 26 DAFTAR PUSTAKA 27 LAMPIRAN KATA PENGANTAR Pertama-tama kita mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat-Nya karya makalah penelitian ini dapat diselesaikan. Adapun penulisan ini bertujuan untuk memenuhi tugas Penelitian Kimia Program Studi Pendidikan Kimia, dengan judul PERBEDAAN KADAR PROTEIN IKAN NILA (Oreochromis niloticus ) SEGAR DAN BERDASARKAN CARA PENGGOLAHAN WADI (VARIASI LAMA WAKTU PENYIMPANAN WADI) DENGAN METODE KJEDAHL. Selain itu saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah penelitian ini. Saya juga berharap dengan adanya makalah ini dapat menjadi salah satu sumber literatur atau sumber informasi pengetahuan tentang PERBEDAAN KADAR PROTEIN IKAN NILA (Oreochromis niloticus ) SEGAR DAN BERDASARKAN CARA PENGGOLAHAN WADI (VARIASI LAMA WAKTU PENYIMPANAN WADI) DENGAN METODE KJEDAHL kepada semua pihak yang telah membaca makalah ini. Saya menyadari makalah ini maasih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saya mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan. Saya sangat mengharapkan kritik dan saran untuk menjadikan ini lebih sempurna. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Palangka Raya, Januari 2016 Penyusun BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi tubuh, karena zat ini di samping berfungsi sebagai bahan bakar dalam tubuh juga berfungsi zat pembangun dan pengatur. Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Molekul protein mengandung pula fosfor, belerang, dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga. Protein juga mengganti jaringan tubuh yang rusak dan yang perlu dirombak. Fungsi utama protein bagi tubuh ialah untuk membentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada. Protein dapat juga digunakan sebagai bahan bakar apabila keperluan energi tubuh tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Fungsi protein mempunyai bermacam-macam fungsi bagi tubuh, yaitu sebagai enzim, zat pengaturan pergerakan, pertahanan tubuh, alat pengangkut, penunjang mekanis, media perambatan implus syaraf dan pengendalian tubuh. Sumber Protein, manusia sangat di anjurkan untuk mengkonsumsi berbagai sumber protein dari berbagai jenis makanan. Karena makanan satu dengan makanan lainnya mengandung protein yang berbeda. Fungsi protein berbeda-beda pada setiap makanan. Berikut adalah sumber protein nabati dan hewani yang cocok untuk di konsumsi : Sumber Protein Nabati Contohnya seperti kacang-kacangan (kedelai, almond, kacang mede, kacang hijau , kacang hazel, kacang merah), jintan, biji bunga matahari dan biji labu. Sumber Protein Hewani Contohnya seperti daging merah, daging unggas, telur, ikan dan produk susu. Secara umum, sebagai bahan pangan sumber lauk-pauk, kandungan nutrisi yang terkandung dalam daging ikan sama saja dengan yang ada dalam daging sapi atau daging ayam. Ada protein, lemak, vitamin, dan mineral. Yang membedakan adalah jumlah, komposisi, dan jenis dari masing-masing zat gizi tersebut. Kualitas protein ikan tergolong sempurna (protein lengkap), mengandung semua asam amino esensial jumlah masing-masing yang mencakupi kebutuhan tubuh. Ikan dikonsumsi sebagai ikan segar, sebagai ikan kering yang diasinkan atau tidak, dan juga sebagai ikan kalengan hasil teknologi pangan modern. Pada ikan yang dikeringkan, baik diasinkan maupun tidak sedikit banyak terjadi pembusukan, yang dapat dikenal dengan baunya yang khas. Pembusukan ini terjadi ketika sedang dikeringkan terkontaminasi oleh mikroba. Ikatan-ikatan kimia yang terjadi pada proses pembusukan ada yang tidak bisa dikonsumsi. Tetapi masyarakat yang sudah biasa mempergunakannya tidak mendapat kesulitan maupun keluhan apapun. Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia sekaligus hama di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. Nilai gizi, Ikan nila dan mujair merupakan sumber protein hewani murah bagi konsumsi manusia. Karena budidayanya mudah, harga jualnya juga rendah. Budidaya dilakukan di kolam-kolam atau tangki pembesaran. Pada budidaya intensif, nila dan mujair tidak dianjurkan dicampur dengan ikan lain karena memiliki perilaku agresif. Nilai kurang bagi ikan ini sebagai bahan konsumsi adalah kandungan asam lemak omega-6 yang tinggi sementara asam lemak omega-3 yang rendah. Komposisi ini kurang baik bagi mereka yang memiliki penyakit yang berkait dengan peredaran darah. Wadi adalah sebuah bahan makanan yang diawetkan dengan bumbu tertentu, bahan dasarnya berupa daging atau ikan. Wadi merupakan bentuk pengawetan makanan yang mudah busuk/rusak agar bisa bertahan lama dan tidak mudah busuk. Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan dengan alkali kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi. Metode ini telah banyak mengalami modifikasi. Metode ini cocok digunakan secara semimikro, sebab hanya memerlukan jumlah sampel dan pereaksi yang sedikit dan waktu analisa yang pendek. Metode ini kurang akurat bila diperlukan pada senyawa yang mengandung atom nitrogen yang terikat secara langsung ke oksigen atau nitrogen. Analisa protein cara Kjeldahl pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu proses destruksi, proses destilasi dan tahap titrasi. Tahap destruksi Tahap destilasi Tahap titrasi Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Analisis Kadar Protein Pada Ikan Nila Segar yang di Oven Dan Berdasarkan Cara Pengolahan Di Wadi Dengan Metode Kjeldhal” Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: Berapakah kadar protein pada ikan nila segar yang di oven? bagaimana perbedaan kadar protein pada ikan nila berdasarkan pengolahan di wadi dengan variasi lama waktu penyimpanan wadi (1 minggu, 2 minggu, 3 minggu dan 4 minggu)? Batasan masalah Agar pada penelitian ini tidak menimbulkan pelebaran pembahasan, maka peneliti membatasi masalah penelitian ini hanya pada kadar protein pada ikan nila segar yang di oven dan berdasarkan cara pengolahan di wadi bervariasi lama waktu penyimpanan wadi (1 minggu, 2 minggu, 3 minggu dan 4 minggu) dengan metode Kjeldhal. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: Mengetahui kadar protein pada ikan nila segar yang di oven? Mengetahui perbedaan kadar protein pada ikan nila berdasarkan pengolahan di wadi dengan variasi lama waktu penyimpanan wadi (1 minggu, 2 minggu, 3 minggu dan 4 minggu) Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah : Bagi masyarakat sebagai salah satu sumber informasi akan manfaat pengolahan wadi pada ikan sebagai bahan pengawet alternatif pengganti formalin pada pengawetan ikan. Memberikan informasi kadar protein yang terkandung pada ikan nila segar yang di oven dan pengolahan di wadi pada ikan nilai berdasarkan variasi umur (1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, dan 4 minggu). Memenuhi tugas mata kuliah penelitian kimia. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Analisis Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan. Kadar Menunjukkan banyaknya zat yang terdapat di dalam sejumlah campurannya, bergantung pada satuan atau ukuran yang diterapkan. Protein Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi tubuh, karena zat ini di samping berfungsi sebagai bahan bakar dalam tubuh juga berfungsi zat pembangun dan pengatur. Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsure-unsur C, H, O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Molekul protein mengandung pula fosfor, belerang, dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga. Protein merupakan senyawa yang terdapat dalam setiap sel hidup. Setengah dari berat kering dan 20% dari berat total seorang manusia dewasa merupakan protein. Hampir setengahnya terdapat di dalam otot, seperlimanya di dalam tulang dan kartilago, sepersepuluhnya dalam kulit dan sisanya pada jaringan-jaringan lain serta cairan tubuh. Protein juga mengganti jaringan tubuh yang rusak dan yang perlu dirombak. Fungsi utama protein bagi tubuh ialah untuk membentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada. Protein dapat juga digunakan sebagai bahan bakar apabila keperluan energi tubuh tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Fungsi protein mempunyai bermacam-macam fungsi bagi tubuh, yaitu sebagai enzim, zat pengaturan pergerakan, pertahanan tubuh, alat pengangkut, penunjang mekanis, media perambatan implus syaraf dan pengendalian tubuh. Sumber Protein, manusia sangat di anjurkan untuk mengkonsumsi berbagai sumber protein dari berbagai jenis makanan. Karena makanan satu dengan makanan lainnya mengandung protein yang berbeda. Fungsi protein berbeda-beda pada setiap makanan. Berikut adalah sumber protein nabati dan hewani yang cocok untuk di konsumsi : Sumber Protein Nabati Contohnya seperti kacang-kacangan (kedelai, almond, kacang mede, kacang hijau , kacang hazel, kacang merah), jintan, biji bunga matahari dan biji labu. Sumber Protein Hewani Contohnya seperti daging merah, daging unggas, telur, ikan dan produk susu. Ikan Secara umum sebagai hewan yang hidup di air, bertulang belakang, poikiloterm, bergerak dengan menggunakan sirp, bernafas dengan insang, dan memiliki gurat sisi (linea lateralis) sebagai organ keseimbangannya. Namun apabila kita mengacu kepada undang-undang 31 tahun 2004 tentang perikanan sebagaimana telah diubah dalam undang-undang 45 tahun 2009, maka definisi ikan yang dimaksud menjadi berbeda dan luas cakupannya. Menurut Pasal 1 Undang-Undang 45 tahun 2009, ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Ikan nila adalah jenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. Ikan nila dapat berkembang dengan baik pada suhu air yang hangat dan tidak produktif di suhu yang dingin. Ikan nila dikenal dengan ikan tropis karena memang hanya ada di daerah tropis seperti indonesia dengan suhu diantara 23– 32OC. Morfologi ikan nila (Oreochromis niloticus) Kerajaan: Animalia Filum: Chordata Kelas: Osteichtyes Ordo: Perciformes Famili: Cichlidae Genus: Oreochromis Spesies: Oreochromis niloticus Nila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Bentuk badan pipih kesamping memanjang; Mempunyai garis vertikal sepanjang tubuh 9-11 buah; Garis-garis pada sirip ekor berwana merah sejumlah 6-12 buah; Pada sirip pungung terdapat garis-garis miring; dan Mata tampak menonjol dan besar, tepi mata berwarna putih. Morfologi ikan nila yaitu memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah bertikal (kompres) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembuhkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas ikan nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membuat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe ctenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, begitu pun bagian analnya. Dengan posisi sirip anal di belakang sirip dada (abdorminal) Ikan nila dilaporkan sebagai pemakan segala (omnivora), pemakan plankton, sampai pemakan aneka tumbuhan sehingga ikan ini diperkirakan dapat dimanfaatkan sebagai pengendali gulma air. Ikan ini sangat peridi, mudah berbiak. Secara alami, ikan nila (dari perkataan Nile, Sungai Nil) ditemukan mulai dari Syria di utara hingga Afrika timur sampai ke Kongo dan Liberia; yaitu di Sungai Nil (Mesir), Danau Tanganyika, Chad, Nigeria, dan Kenya. Diyakini pula bahwa pemeliharaan ikan ini telah berlangsung semenjak peradaban Mesir purba. Telur ikan nila berbentuk bulat berwarna kekuningan dengan diameter sekitar 2,8 mm. Sekali memijah, ikan nila betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 300-1.500 butir, tergantung pada ukuran tubuhnya. Ikan nila mempunyai kebiasaan yang unik setelah memijah, induk betinanya mengulum telur-telur yang telah dibuahi di dalam rongga mulutnya. Perilaku ini disebut mouth breeder (pengeram telur dalam mulut). Karena mudahnya dipelihara dan dibiakkan, ikan ini segera diternakkan di banyak negara sebagai ikan konsumsi, termasuk di pelbagai daerah di Indonesia. Akan tetapi mengingat rasa dagingnya yang tidak istimewa, ikan nila juga tidak pernah mencapai harga yang tinggi. Di samping dijual dalam keadaan segar, daging ikan nila sering pula dijadikan filet. Ikan nila memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dan toleransi terhadap kualitas air pada kisaran yang lebar. Anggota-anggota genus ini dapat hidup dalam kondisi lingkungan yang ekstrem sekalipun, karena sering ditemukan hidup normal pada habitat-habitat di mana jenis ikan air tawar lainnya tak dapat hidup. Pengawetan Wadi Wadi adalah sebuah bahan makanan yang diawetkan dengan bumbu tertentu, bahan dasarnya berupa daging atau ikan. Wadi merupakan bentuk pengawetan makanan yang mudah busuk/rusak agar bisa bertahan lama dan tidak mudah busuk. Pembuatan wadi ikan nila Ikan nila dibersihkan dengan cara pencucian bertujuan untuk menghilangkan darah dan kotoran yang masih melekat pada tubuh Diberi garam secukupnya Diamkan selama 1 hari 1 malam Sangrai beras secukupnya Lalu beras di dihaluskan Ikan yang telah didiamkan 1 hari 1 malam di cuci bersih Dibuat dalam toples dengan sambil di beri sangraian beras tadi Di tutup bagian atasnya dengan daun nangka Kemudian tutup toples dengan erat Ditunggu kurang lebih satu minggu – empat minggu Metode Kjeldhal Gambar Cara Kerja Metode Kjeldahl Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan dengan alkali kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi. Metode ini telah banyak mengalami modifikasi. Metode ini cocok digunakan secara semimikro, sebab hanya memerlukan jumlah sampel dan pereaksi yang sedikit dan waktu analisa yang pendek. Metode ini kurang akurat bila diperlukan pada senyawa yang mengandung atom nitrogen yang terikat secara langsung ke oksigen atau nitrogen. Cara Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar nitrogennya. Dengan mengalikan hasil analisis tersebut dengan angka konversi 6,25, diperoleh nilai protein dalam bahan makanan itu. Untuk beras, kedelai, dan gandum angka konversi berturut-turut sebagai berikut: 5,95, 5,71, dan 5,83. Angka 6,25 berasal dari angka konversi serum albumin yang biasanya mengandung 16% nitrogen. Prinsip cara analisis Kjeldahl adalah sebagai berikut: mula-mula bahan didestruksi dengan asam sulfat pekat menggunakan katalis selenium oksiklorida atau butiran Zn. Amonia yang terjadi ditampung dan dititrasi dengan bantuan indikator. Cara Kjeldahl pada umumnya dapat dibedakan atas dua cara, yaitu cara makro dan semimakro. Cara makro Kjeldahl digunakan untuk contoh yang sukar dihomogenisasi dan besar contoh 1-3 g. Cara semimikro Kjeldahl dirancang untuk contoh ukuran kecil yaitu kurang dari 300 mg dari bahan yang homogen. Cara analisis tersebut akan berhasil baik dengan asumsi nitrogen dalam bentuk ikatan N-N dan N-O dalam sampel tidak terdapat dalam jumlah yang besar. Kekurangan cara analisis ini ialah bahwa purina, pirimidina, vitamin-vitamin, asam amino besar, kreatina, dan kreatinina ikut teranalisis dan terukur sebagai nitrogen protein. Walaupun demikian, cara ini kini masih digunakan dan dianggap cukup teliti untuk pengukuran kadar protein dalam bahan makanan. Analisa protein cara Kjeldahl pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap destruksi, tahap destilasi dan tahap titrasi. Tahap Destruksi Pada tahapan ini sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga terjadi destruksi menjadi unsur-unsurnya. Elemen karbon, hidrogen teroksidasi menjadi CO, CO2 dan H2O. Sedangkan nitrogennya (N) akan berubah menjadi (NH4)2SO4. Untuk mempercepat proses destruksi sering ditambahkan katalisator berupa campuran Na2SO4 dan HgO (20:1). Gunning menganjurkan menggunakan K2SO4 atau CuSO4. Dengan penambahan katalisator tersebut titk didih asam sulfat akan dipertinggi sehingga destruksi berjalan lebih cepat. Selain katalisator yang telah disebutkan tadi, kadang-kadang juga diberikan Selenium. Selenium dapat mempercepat proses oksidasi karena zat tersebut selain menaikkan titik didih juga mudah mengadakan perubahan dari valensi tinggi ke valensi rendah atau sebaliknya. Tahap Destilasi Pada tahap destilasi, ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia (NH3) dengan penambahan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan. Agar supaya selama destilasi tidak terjadi superheating ataupun pemercikan cairan atau timbulnya gelembung gas yang besar maka dapat ditambahkan logam zink (Zn). Ammonia yang dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh asam khlorida atau asam borat 4 % dalam jumlah yang berlebihan. Agar supaya kontak antara asam dan ammonia lebih baik maka diusahakan ujung tabung destilasi tercelup sedalam mungkin dalam asam. Untuk mengetahui asam dalam keadaan berlebihan maka diberi indikator misalnya BCG + MR atau PP. Tahap Titrasi Apabila penampung destilat digunakan asam khlorida maka sisa asam khorida yang bereaksi dengan ammonia dititrasi dengan NaOH standar (0,1 N). Akhir titrasi ditandai dengan tepat perubahan warna larutan menjadi merah muda dan tidak hilang selama 30 detik bila menggunakan indikator PP. Kandungan Nitrogen dihitung dengan menggunakan rumus Standar Nasional Indonesia sebagai berikut: Kadar Protein = ((V1-V2)x N x 0,014 x fk)/W x 100% Keterangan : W = massa cuplikan / sampel V1 = volume HCl yang dipergunakan dalam penetrasi sampel V2 = volume HCl yang dipergunakan dalam penetrasi blanko N = normalitas HCl fk = faktor konversi untuk protein dan makanan secara umum (6,25) Apabila penampung destilasi digunakan asam borat maka banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia dapat diketahui dengan titrasi menggunakan asam khlorida 0,1 N dengan indikator (BCG + MR). Akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan dari biru menjadi merah muda. Setelah diperoleh %N, selanjutnya dihitung kadar proteinnya dengan mengalikan suatu faktor. Besarnya faktor perkalian N menjadi protein ini tergantung pada persentase N yang menyusun protein dalam suatu bahan. Kadar protein (%) = % N x faktor konversi. Keuntungan dan Kerugian metode kjeldhal Keuntungan : Metode Kjeldahl digunakan secara luas di seluruh dunia dan masih merupakan metode standar dibanding metode lain. Sifatnya yang universal, presisi tinggi dan reprodusibilitas baik membuat metode ini banyak digunakan untuk penetapan kadar protein. kerugian Metode ini tidak memberikan pengukuran protein sesungguhnya, karena tidak semua nitrogen dalam makanan bersumber dari protein. Protein yang berbeda memerlukan faktor koreksi yang berbeda karena susunan residu asam amino yang berbeda. Penggunaan asam sulfat pada suhu tinggi berbahaya, demikian juga beberapa katalis Teknik ini membutuhkan waktu lama. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode penentuan kadar protein yang digunakan adalah analisis kuantitatif protein menurut metode Kjeldhal dimana metode ini merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein, dan senyawa yang mengandung nitrogen. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) Palangka Raya. Waktu pelaksanaan dilaksanakan pada tanggal 30 maret 2015 sampai 22 april 2015 dan tanggal 24-25 agustus 2015. Alat dan Bahan Alat Alat-alat yang digunakan untuk proses penentuan kadar protein pada ikan nila adalah sebagai berikut : Buret lengkap, Pisau pemotong, telenan, Labu erlenmeyer 100 mL dan 500 mL, Labu takar 25 mL dan 1000 mL, Alat penyulingan/destilator, Pemanasan bunsen, Neraca analitik, Gelas kimia 50 mL, Pipet tetes, Pipet ukur 20 mL, Labu Kjeldahl, Oven, Gelas ukur, Penjepit, Kaca arloji, Spatula, Lumpang dan Alu. Bahan Bahan-bahan yang digunakan untuk proses penentuan kadar protein pada ikan Nila adalah sebagai berikut :ikan Nila yang segar yang di oven, wadi ikan Nila, kemudian dihaluskan untuk mempermudah proses analisis, Serbuk selen mix, Krtistal H3BO3, Serbuk NaOH, Serbuk metil biru, Akuades, Alkohol 96%, H2SO4 0,1 N, Serbuk metil merah, H2SO4 Pekat, Indikator PP, Selenium, Natrium sulfat, Tembaga sulfat, dan air suling. Langkah Kerja Pembuatan Campuran Selen Campurkan selenium, natrium sulfat, dan tembaga sulfat yang biasanya sudah tersedia dipasar Pembuatan Indikator Campuran Ditimbang 0,1 gram metil merah Ditimbang 0,05 gram metil biru Campurkan metil merah dan metil biru yang sudah ditimbang Dimasukan campuran tersebut kedalam alkohol 96% dengan volume 100ml Pembuatan Larutan Asam Borat Ditimbang 10 gram H3BO3 Masukan kedalam 500ml akuades Campuran H3BO3dan akuades sebagai larutan H3BO320% Lalu tambahkan 2 tetes indikator campuran Pembuatan larutan H2SO4 0,1 N Diambil 2,8 ml H2SO4 pekat Dicampurkan dengan akuades sebanyak 1 L Diambil 100 mL campuran larutan tadi Diencerkan sampai 1 L Larutan Natrium Hidroksida (NaOH) 67 % Ditimbang 67 gram NaOH padatan Dimasukan dalam 100 ml air suling Dikocok sampai homogen Pembuatan wadi ikan nila Ikan nila dibersihkan dengan cara pencucian bertujuan untuk menghilangkan darah dan kotoran yang masih melekat pada tubuh Diberi garam secukupnya Diamkan selama 1 hari 1 malam Disangrai beras secukupnya Lalu beras dihaluskan Ikan yang telah didiamkan 1 hari 1 malam di cuci bersih Dibuat dalam toples dengan sambil di beri sangraian beras tadi Di tutup bagian atasnya dengan daun nangka Kemudian tutup toples dengan erat Ditunggu kurang lebih satu minggu sampai empat minggu Analisis protein ikan wadi Untuk Ikan Nila Segar Ikan Nila dibersihkan dan diolah sesuai sampel yang dibutuhkan yaitu ikan Nila segar yang di oven dan wadi ikan Nila. Daging ikan nila segar yang di oven dan wadi ikan nila dihaluskan dalam mortar hingga benar-benar halus dan tidak ada duri didalamnya. Masing-masing sampel ditimbang sebanyak 0,5 gram dimasukkan kedalam labu Kjeldahl 50 ml. Ditambahkan campuran selen kedalamnya sebanyak 0,65 gram. Ditambahkan lagi 6 ml H2SO4 pekat kedalam labu yang sudah terdapat sampel dan campuran selen. Dipanaskan sampai suhu ± 500ÂșC selama ± 45 menit. Sampai larutan berwarna hijau bening. Hasil destruksi ini dinamakan sebagai dekstran. Dekstran yang sudah terbentuk didinginkan dalam labu Kjeldahl. Kemudian di tambahkan akuades sebanyak 10 ml kedalam labu Kjeldahl sampai berubah warna menjadi coklat kehijauan. Dekstran tersebut dimasukkan kedalam alat penyulingan/Markhan destiling unit dan ditampung dalam labu erlenmeyer berisi indikator campuran 2 tetes + H3BO3 20% sebanyak 10 ml. Larutan yang ada dalam penyulingan ditambahkan NaOH 67% sebanyak 15-20 mL + akuades untuk menutupi bagian atas destilator agar gas tidak lepas ke udara. Proses destilasi yang perlu diperhatikan disini adalah ujung kondensor yang harus tercelup pada permukaan cairan asam borat. destilasi dilakukan selama ±5 menit sampai volumenya kira-kira 50mL. Destilat yang diperoleh dititrasi dengan larutan standar H2SO4 0,1 N sampai warnanya berubah menjadi ungu. Dicatat volume titrasi Dilakukan titrasi sebanyak 3 kali pada semua sampel. Untuk wadi ikan nila Variasi Umur Semua langkah diatas sama tetapi sampel diganti dengan wadi ikan nila Untuk Larutan Blanko Semua langkah diatas sama tetapi sampel diganti dengan akuades . Analisis Data Pada penelitian ini ikan yang akan diteliti kadar proteinnya adalah ikan nila dengan menggunakan metoda Kjeldahl. Metode Kjeldahl in merupakan metode yang sederhana, akurat, dan resmi untuk penetapan nitrogen total pada protein dan senyawa yang mengandung nitrogen secara kasar (Rohman, 2013). Nitrogen merupakan salah satu unsur penyusun protein, sehingga untuk mengukur kadar protein dapat dihitung kadar Nitrogen. Perhitungan kadar Nitrogen dengan menggunakan rumus Standar Nasional Indonesia berikut ini: Kadar Protein = ((V_1- V_2 ) x N x 0,014 x fk)/W x 100% Dimana : W : Bobot cuplikan atau sampel V1: Volume H2SO4 yang dipergunakan dalam titrasi sampel V2 : Volume H2SO4 yang dipergunakan dalam titrasi blanko N : Normalitas H2SO4 Fk : faktor konversi untuk protein pangan secara umum ikan sebesar 6,25 didasarkan pada asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen. Namun karena tidak semua protein mengandung jumlah yang sama, maka kadar protein yang dihitung merupakan kadar protein kasar (Tejasari,2005). BAB IV HASIL PENELITIAN Data Hasil Penelitian Massa ikan nila segar dan ikan nila yang diawetkan dengan cara di wadi dalam perbedaan variasi waktu yang dipergunakan dalam titrasi tersebut dapat kita lihat pada tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Massa ikan nila yang digunakan dalam titrasi Pengulangan Massa (gram) Nila Segar Wadi Nila Minggu Ke-1 Wadi Nila Minggu Ke-2 Wadi Nila Minggu Ke-3 Wadi Nila Minggu Ke-4 1 0.5163 0.5025 0.5283 0.5280 0.5020 2 0.5208 0.5042 0.5173 0.5170 0.5070 Hasil titrasi ini digunakan dalam perhitungan kadar protein ikan nila dengan menggunakan rumus metode Kjeldahl. Data hasil titrasi ikan nila segar dan ikan nila yang di awetkan dengan cara di wadi dengan standar H2SO4 dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Hasil titrasi dalam perbedaan variasi waktu dengaan standar H2SO4 0,1 N Pengulangan H2SO4 (mL) Nila Segar Wadi Nila Minggu Ke-1 Wadi Nila Minggu Ke-2 Wadi Nila Minggu Ke-3 Wadi Nila Minggu Ke-4 1 20.18 12.69 14.10 16.00 15.25 2 21.10 12.75 14.50 13.38 14.78 Data hasil perhitungan kadar protein pada ikan nila segar dan ikan nila yang diawetkan dengan cara di wadi dalam perbedaan variasi waktu dapat lihat pada table 3. Tabel 3. Hasil perhitungan kadar protein ikan nila Pengulangan Kadar Protein (%) Nila Segar Wadi Nila Minggu Ke-1 Wadi Nila Minggu Ke-2 Wadi Nila Minggu Ke-3 Wadi Nila Minggu Ke-4 1 34.20 22.10 23.35 26.52 26.58 2 35.45 22.13 24.53 22.65 25.51 2 34.80 22.11 23.94 24.58 26.04 Grafik 1. Perbandingan rata-rata kadar protein ikan nila Dapat diketahui bahwa kadar protein ikan nila segar adalah 34.83%, wadi ikan nila umur 1 minggu 22.11%, wadi ikan nila umur 2 minggu 23.94%, wadi ikan nila umur 3 minggu 24.58%, dan wadi ikan nila umur 4 minggu 26.04%. Pembahasan Hasil Penelitian Analisis protein untuk mengetahui jumlah kandungan proteinnya dalam pangan dapat dilakukan uji kuantitatif. Dimana protein adalah makromolekul yang terbentuk dari asam amino yang tersusun dari atom nitrogen, karbon hidrogen, dan oksigen. Jenis penelitian ini adalah tentang kandungan protein yang dilakukan secara uji kuantitatif, dilakukan dengan metode Kjeldahl. Metode Kjedahl adalah cara untuk menentukan kadar protein karena untuk menetapkan nitrogen total pada protein dan senyawa N secara kasar. Dengan mengalikan hasil analisis tersebut dengan angka konvensi 6,25 diperoleh nilai protein dalam bahan makanan tersebut. Dalam pembuatan wadi ikan nila dilakukan dengan dua tahapan, yaitu pengaraman dan penyamuan. Dimana pengaraman berfungsi untuk mengurangi kadar air yang ada dalam daging ikan. Kemudian penyamun digunakan untuk mengawetkan ikan nila, juga menghilangkan kadar air yang masih ada dalam ikan nila setelah pengaraman dilakukan. Setelah dilakukan pembuatan wadi dan di tunggu sampai waktu yang digunakan untuk pengujian kadar protein. Ciri-ciri fisik ikan nila yang segar setelah dioven akan terlihat sangat kering. Sedangkan pada ikan nila yang diwadi akan terlihat kering dan juga berbau asam, dan rasanya asam. Analisis protein menggunakan metode Kjeldahl pada penelitian ini ada tiga tahapan, yaitu proses destruksi, proses destilasi, dan tahap titrasi. Tahap Destruksi Ikan nila segar dan ikan yang sudah dibuat menjadi wadi diambil dagingnya untuk dihaluskan ter,ebih dahulu. Tujuan dihaluskannya terlebih dahulu daging ikan tersebut untuk memisahkan daging dengan tulang ikan yang ada di daging. Setelah dihaluskan, sampel ditimbang 0,5 gram,. Kemudian dimasukkan kedalam labu Kjeldahl 50 mL dan ditambahkan campuran selen sebanyak 0,65 gram. Penambahan selen ini berfungsi untuk mempercepat proses pelepasan ikatan penguraian protein dan juga sebagai katalis yang dapat mempercepat proses oksidasi dan destruksi, karena selen selain dapat menaikkan titik didih asam sulfat saat penambahan H2SO4 pekat, juga mampu mengadakan perubahan valensi dari rendah ke tinggi atau sebaliknya. Selanjutnya ditambahkan 6 mL H2SO4 pekat kedalam labu Kjeldahl yan sudah berisi sampel dan campuran selen. Didapatkan warna larutan bening. H2SO4 pekat yang digunakan untuk destruksi diperhitungkan dari adanya bahan protein. Lalu dipanaskan dalam alat destruksi dengan suhu ±500oC dan ditutup selama ±45 menit.. didapatkan larutan berwarna bening kehijauan yang mengindikasikan bahwa proses destruksi telah selesai. Hasil destruksi itu disebut dengan dekstran. Tujuan pemanasan adalah untuk mendestruksi sampel secara sempurna menjadi unsur-unsurnya. Elemen karbon (C) dan hidrogen /(H) akan teroksidasi menjadi karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), dan H2O. H2SO4 dalam proses pemanasan yang bercampur dengan sampel (protein) akan terurai menjadi SO2(g). gas SO2(g) pada proses destruksi memiliki bau yang sangat menyengat. Gas tersebut akan dinetralkan dan dibebaskan, selain itu CO2 dan H2O juga dibebaskan. Reaksi yang terjadi pada tahap ini sebagai berikut: protein + H2SO4 → CO2↑ + SO2↑ + (NH4)2SO4 + H2O larutan jernih mengandung (NH4)2SO4 yang kemudian didinginkan supaya suhu sampel sama dengan suhu ruang, supaya pada tahap selanjutnya bisa didapatkan hasil yang kita inginkan. Tahap Destilasi Proses destilasi dilakukan untuk memisahkan zat yang diinginkan. Caranya yaitu, deksran yang sudah terbentuk dari tahapan destruksi yang telah didinginkan, kemudian ditambahkan dengan akuades sebanyak 10 mL. didapatkan warna larutan kehijauan.penambahan air bertujuan untuk melarutkan sampel hasil destruksi supaya dapat didestilasi dengan sempurna. Selanjutnya dekstran tadi dimasukkan kedalam alat penyuligan Markhan destiling unit. Kemudian ditampung dalam labu Erlenmeyer berisi cmpuran indicator 2 tetes + H3BO3 2% sebanyak 10 mL. larutan dalam alat penyulingan ditambahkan NaOH 67% sebanyak 15-20 mL. kemudian ditambahkan akuades untuk menutupi bagian atas destilator agar gas tidak lepas ke udara. Alat destilasi berupa pipa kecil panjang yang dimasukkan kedalamnya hingga hampir mencapai dasar tabung reaksi. Destilasi dilakukan selama ±5 menit sampai volume kira-kira 50 mL. diddapatkan larutan berwarna hijau kebiruan. Penambahan NaOH berfungsi untuk memberikan suasana basa, karena reaksi tidak dapat berlangsung dalam keadaan basa. karena (NH4)2SO4 bereaksi dengan NaOH akan menghasilkan panas (reaksi eksoterm). Pada tahap ini ammonium sulfadipecah menjadi ammonia dengan penambahan NaOH. Ammonia (gas yang bersifat basa) yang dilepaskan tadi akan ditangkap oleh larutan asam standar, larutan standar yang digunakan adalah asam borat 2% (H3BO3). Fungsi penambahan indicator campuran yang terdiri dari metil merah, metil biru, dan alcohol 96% adalah untuk mengetahui asam yang digunakan untuk menangkap ammonia dalam keadaan berlebih. Dimana mengetahui asam untuk melarutkan ekstrak protein dan berfungsi untuk pemekaran dan pengembangan molekul protein yang terdenaturasi membuka gugus reaktif yang ada pada rantai polipeptida. Selanjutnya akan terjadi pengikatan kembali pada gugus reaktif yang sama atau berdekatan. Reaksi yang terjadi pada tahapan ini sebagai berikut: (NH4)2SO4 + 2NaOH → Na2SO4 + 2NH4OH 2NH4OH → 2NH3 + 2H2O (NH4)2SO4 + 2NaOH → 2NH3 + 2H2O + Na2SO4 dan juga, 4NH3 + 2H3BO3 → 2(NH4)2BO3 + H2 atau NH3 + H3BO3 → NH4+ + H2BO3- Tahap Titrasi Titrasi merupakan tahap akhir, dimana hasil destilat yang didapatkan di titrasi dengan larutan standar H2SO4 0,1 N. didapatkan warna larutan akhir adalah ungu yang menandakan titik akhir titrasi. Titrasi dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak volume H2SO4 0,1 N yang digunakan untuk mereaksikan ammonia dan asam borat. Volume H2SO4 0,1 N yang diperoleh digunakan untuk menghitung kadar Nitrogen yang merupakan unsur penyusun protein. Reaksi yang terjadi pada tahap ini sebagai berikut: NH4H2BO3 + H2SO4 → (NH4)2SO4 + H3BO3 Dimana dalam reaksi tersebut: H2BO3- + H+ → H3BO3 Kadar ion Hidrogen yang diperlukan untuk mencapai titik akhir titrasi setara dengan kadar nitrogen dalam makanan. Setelah tahap titrasi, maka rata-rata kadar protein dalam 0,5 gram yang didapatkan pada ikan nila segar adalah 34,83%, wadi ikan nila umur 1 minggu adalah 22,11%, wadi ikan nila umur 2 minggu adalah 23,94%, wadi ikan nila umur 3 minggu adalah 24,58%, dan wadi ikan nila umur 4 minggu adalah 26,04%. Pada ikan nila segar memiliki kadar protein paling tinggi, yaitu 34,83% dari pada ikan nila yang sudah dibuat menjadi wadi. Hal ini dikarenakan pada ikan nila segar diperlakukan dengan cara di oven untuk menghilangkan kadar air dalam dagingnya. Kadar air dalam ikan sudah tidak ada lagi. Ini di karenakan ikan segar sebelum di uji protein harus di oven terlebih dahulu, karena wadi ikan nila yang di gunakan adalah wadi nila kering. Pengovenan ikan nila segar pada suhu 100oC ± 3oC selama 3 jam. Sedangkan pada ikan nila yang sudah diawetkan dengan caara di wadi memiliki kadar protein yang tinggi setiap minggunya. Hal ini disebabkan penyusutan kadar air pada daging ikan membuat protein yang didapatkan makin banyak. Penyusutan air pada daging ikan nila menyebabkan pengkerutan serat otot pada daging ikan nila disebabkan terdenaturasinya protein daging. Penyusutan air tersebut dikarenakan pada tahap pengawetan dengan cara di wadi ada dua tahapan yaitu pengaraman dan pemberian samu. Pada tahap pengaraman selama 24 jam membuat garam menyerap air dari tubuh ikan melalui proses osmosis. Larutan garam pekat menyerap air keluar dari tubuh ikan, dan secara bersamaan molekul-molekul garam menembus kedalam daging ikan. Pemberian samu menggunaan beras ketan yang sudah disangrai sampai coklat yang telah dihaluskan bertujuan untuk membuat ikan menjadi wangi dan memiliki ciri khas bau yang sangat sedap. Selain itu juga untuk menyerap air yang masih ada didalam daging ikan. Semakin lama proses penyimpanan ikan nila yang diawetkan dengan cara di samu akan banyak juga kandungan protein. Makin banyak protein dikarenakan kandungan air dalam daging ikan akan berkurang atau menyusut. Pada grafik hasil perhitungan kadar protein pada masing-masing sampel didapatkan dari hasil titrasi bias dilihat grafik 1. Dimana pada ikan yang segar memiliki kadar protein lebih tinggi dari pada kadar protein ikan yang dibuat menjadi wadi. Kadar protein wadi ikan nila dari minggu ke minggu semakin meningkat. Peningkatan kadar protein dikarenakan pada ikan segar yang dioven dan wadi ikan nila. Pada proses pengovenan ikan pada suhu 100oC ± 3oC selama 3 jam, pemanasan yang dilakukan tersebut membuat ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik non polar terganggu atau terputusnya interaksi non-kovalen, tapi tidak memutuskan ikatan kovalen yang berupa ikatan peptide. Karena lapisan molekul pada daging ikan mengalami sifat hidrofobik tadi akan keluar, sedangkan hidrofilik akan berlipat kedalam. Pelipatan tersebut yang menjadi bertumpuk dan menggumpal. Sehingga kadar protein yang banyak dan kadar air pada ikan berkurang. Pada wadi ikan nila, dari minggu pertama sampai minggu keempat mengalami peningkatan kadar protein. Hal tersebut disebabkan karena terjadinya terdenaturasi dan degradasi pada daging ikan selama proses wadi. Denaturasi adalah perubahan bentuk pada protein yang diakibatkan karena panas, pH, tekanan, dan adanya bahan kimia. Oleh karena itu, pada proses wadi ikan nila mengalami denaturasi. Denaturasi protein meliputi gangguan dan kerusakan yang mungkin terjadi pada struktur sekunder dan tersier protein. Sejak diketahui reaksi denaturasi tidak cukup kuat untuk memutuskan ikatan peptida, dimana struktur primer protein tetap sama setelah proses denaturasi. Denaturasi terjadi karena adanya gangguan pada struktur sekunder dan tersier protein. Pada struktur protein tersier terdapat empat jenis interaksi yang membentuk ikatan pada rantai samping seperti; ikatan hidrogen, jembatan garam, ikatan disulfida dan interaksi hidrofobik non polar, yang kemungkinan mengalami gangguan. Denaturasi yang umum ditemui adalah proses presipitasi dan koagulasi protein. Pada ikan nila yang diberikan garam membuat daging ikan nila akan mengalami koagulasi dan mengakibatkan proses difusi air dari sel-sel tubuh bagian dalam terhambat, dikarenakan terjadi penarikan air yang sangat cepat pada daging yang digarami. Fermentasi wadi ini mengakibatkan enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme menjadi terhidrolisis pada jaringan ikan nila. Enzim-enzim sebagai pemecahan ikatan polipeptida menjadi ikatan lebih sederhana, sehingga kualitas atau kadar protein wadi ikan akan meningkat, mengalami degradasi atau kerusakan. Degradasi atau kerusakan adalah proses pembusukan pada ikan nila dikarenakan kadar glikogen pada ikan rendah sehingga rigor mortis berlangsung lebih cepat dan pH akhir daging ikan cukup tinggi (sekitar 6,4 – 6,6). Oleh karena itu, pada wadi ikan nila memiliki rasa asam. Pada wadi ikan nila mengalami degradasi berat, yaitu peptida. Degradasi protein awalnya terbagi menjadi pembusukan awal dan pembusukan lanjutan. Degradasi awal merupakan pembusukan pada ikan dipecah menjadi dipeptida, asam amino, trimetilaminoksida, senyawa-senyawa Nitrogen lainnya. Kemudian degradasi lanjutan adalah kerusakan yang terjadi pada protein ikan menghasilkan senyawa-senyawa berbau yang tidak sedap, yaitu putresin, isobutilamin, kaderverin. Pengaruh suhu pada proses pengaraman dan wadi mengalami perubahan sruktur pada protein yang ada pada ikan mengakibatkan jumlah kadar protein pada ikan meningkat apabila pada suhu tinggi dan pH yang tinggi. BAB V PENUTUP Kesimpulan Penentuan kadar protein dengan metode semimikro kjeldahl adalah penentuan protein kasar (crude protein) hal ini dikarenakan protein mengandung unsur N, dan jumlah protein dapat diperhitungkan atas dasar kandungan rata-rata unsur N yang ada dalam protein. Berdasarkan hasil penelitian terhadap ikan nila dengan pengolahan dii wadi dan segar maka diperoleh kandunan protein rata-rata yaitu ikan nila segar yang di oven 34.83 %, wadi ikan nila 1 minggu 22,11 %, wadi ikan nila 2 minggu 23,94 %, wadi ikan nila 3 minggu 24,58 %, wadi ikan nila 4 minggu 26,04 %. kadar protein ikan nila segar yang di oven lebih tinggi dibandingkan ikan nila yang di olah wadi, artinya pengolahan wadi tidak menambah kadar protein pada ikan tetapi menurunkan kadar protein tersebut. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang perbedaan kadar protein ikan yang berbeda berdasarkan cara penggolahan wadi (variasi lama waktu penyimpanan wadi yang berbeda) dengan metode kjedahl.

Kamis, 25 Juni 2015

makalah saintifik

Makalah pendekatan saintifik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan merupakan sesuatu yang harus terjadi pada bidang pendidikan. Perubahan yang terjadi adalah pergantian Kurikulum 2013 dari Kurikulum sebelumnya. Dalam rangka menerapkan pendidikan yang bermutu, pemerintah telah menetapkan Kurikulum Tahun 2013 untuk diterapkan pada sekolah/madrasah. Penerapan kurikulum ini tentu dilakukan secara bertahap. Ada banyak komponen yang melekat pada Kurikulum Tahun 2013 ini. Hal yang paling menonjol adalah pendekatan dan strategi pembelajarannya. Guru masih memahami dan menerapkan pendekatan dan strategi pembelajaran Kurikulum sebelumnya. Hal ini perlu ada perubahan mindset dari metodologi pembelajaran pola lama menuju pada metodologi pembelajaran pola baru sesuai dengan yang diterapkan pada Kurikulum Tahun 2013. Berikut ini akan dipaparkan langkah pembelajaran pada scientific approach menggamit beberapa ranah pencapaian hasil belajar yang tertuang pada kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keteramplilan. Hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologi) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta”. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar, manyaji, dan mencipta”. Karakteristik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses. Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajarn berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inguiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok, maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). Secara umum, pendekatan belajar yang dipilih berbasis pada teori tentang taksonomi tujuan pendidikan yang dalam lima dasawarsa terakhir yang secara umum sudah dikenal luas. Berdasarkan teori taksonomi tersebut, capaian pembelajaran dapat dikelompokkan dalam tiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Penerapan teori taksonomi dalam tujuan pendidikan diberbagai negara dilakukan secara adaptif sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengadopsi taksonomi dalam bentuk rumusan sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Proses pembelajaran sepenuhnya diarahkan pada pengembangan ketiga ranah tersebut secara utuh/holistik, artinya pengembangan ranah yang satu tidak bisa dipisahkan dengan ranah lainnya. Dengan demikian, proses pembelajaran secara utuh melahirkan kualitas pribadi yang mencerminkan keutuhan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terintegrasi. B. Rumusan Masalah 1. Apa definisi pendekatan saintifik? 2. Bagaimana proses pembalajaran? 3. Apa saja fungsi Kurikulum 2013? 4. Bagaimana menerapkan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran? C. Tujuan 1. Mengetahui definisi pendekatan saintifik. 2. Mengetahui proses pembelajaran. 3. Mengetahiu fungsi Kurikulum 2013. 4. Mengetahui penerapan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran. BAB II Pendekatan Saintifik A. Pengertian Pendekatan Saintifik Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu. Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran maelibatkan keterampilan proses, seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi, bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan semakin tingginya kelas siswa. Metode saintifik sangat relevan dengan tiga teori belajar, yaitu teori Bruner, teori Piaget, dan teori Vygotsky. Teori belajar Bruner disebut juga teori belajar penemuan. Ada empat hal poko berkaitan dengan teori belajar Bruner (dalam Carin & Sund, 1975). Pertama, individu hanya belajar dan mengembangkan pikirannya apabila ia menggunakan pikirannya. Kedua, dengan melakukan proses-proses kognitif dalam proses penemuan, siswa akan memperoleh sensasi dan kepuasan intelektual yang merupakan suatu penghargaan intrinsik. Ketiga, satu-satunya cara agar seseorang dapat mempelajari teknik-teknik dalam melakukan penemuan adalah ia memilik kesempatan untuk melakukan penemuan. Keempat, dengan melakukan penemuan maka akan memperkuat retensi ingatan. Empat hal diatas adalah bersesuaian dengan proses kognitif yang diperluksn dalam pembelajaran menggunakan metode saintifik. Teori Piaget, menyatakan bahwa belajar berkaitan dengan pembentukan dan perkembangan skema (jamak skemata). Skema adalah suatu struktur mental atau struktur kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya (Baldwin, 1967). Skema tidak pernah berhenti berubah, skemata seorang anak akan berkembang menjadi skemata orang dewasa. Proses yang menyebabkan terjadinya perubahan skemata disebut dengan adaptasi. Proses terbentuknya adaptasi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan stimulus yang dapat berupa persepsi, konsep, hukum, prinsip ataupun pengalaman baru kedalam skema yang sudah ada didalam pikirannya. Akomodasi dapat berupa pembentukan skema baru yang dapat cocok dengan ciri-ciri rangsangan yang ada atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan ciri-ciri stimulus yang ada. Dalam pembelajaran diperlukan adanya penyeimbangan atau ekuilibrasi atara asimilsi dan akomodasi. Vygotsky, dalam teorinya menyatakan bahwa pembelajaran terjadi apabila peserta didik bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuan atau tugas itu berada dalam zone of proximal develoment daerah terletak antara tingkat perkembangan anak saat ini yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah dibawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu (Nur dan Wikandari, 2000: 4). B. Karakteristik Pembelajaran dengan Metode Saintifik Pembelajaran dengan metode saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut. 1. Berpusat pada siswa. 2. Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip. 3. Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. 4. Dapat mengembangkan karakter siswa. a. Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik didasarkan pada keunggulan pendekatan tersebut. Beberapa tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah sebagai berikut. 1. Untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. 2. Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik. 3. Terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan. 4. Diperolehnya hasil belajar yang tinggi. 5. Untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah. 6. Untuk mengembangkan karakter siswa. b. Prinsip-prinsip pembelajaran dengan pendekatan saintifik Beberapa prinsip pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut. 1. Pembelajaran berpusat pada siswa 2. Pembelajaran membentuk student self concept. 3. Pembelajaran terhindar dari verbalisme. 4. Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip 5. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa. 6. Pembelajaran meningkatkan motivaasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru. 7. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi. 8. Adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya. C. Langkah-Langkah Umum Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Meliputi : menggali informasi melalui observimg/pengamatan, questioning/bertanya, experimenting/percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, associating/menalar, kemudian menyimpulkan, dan menciptakan serta membentuk jaringan/networking. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi, seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sfat non-ilmiah. Pada setiap aplikasi kurikulum mempunyai aplikasi pendekatan pembelajaran berbeda-beda, demikian pada kurikulum sekarang ini. Scientific approach (pendekatan ilmiah)adalah pendekatan pembelajaran yang diterapkan pada aplikasi pembelajaran Kurikulum 2013. Pendekatan ini berbeda dari pendekatan pembelajaran kurikulum sebelumnya. Pada setiap langkah inti proses pembelajaran, guru akan melakukan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah/scientific approach mempunyai kriteria proses pembelajaran sebagai berikut. a. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas hanya kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. b. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-mert, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. c. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. d. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran. e. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespons materi pembelajaran. f. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung jawabkan. g. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya. Sedangkan proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu attitude/sikap, knowledge/pengetahuan, dan skill/keterampilan (disingkat KSA = knowledge, skill, dan attitude). a. Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa”. b. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”. c. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa”. d. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan anatar kemampuan untuk menjadi manusia yang lebih baik (soft skill) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skill) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. e. Hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. D. Fungsi dan Peranan Kurikulum 2013 Menurut Subandijah (1993: 2) kurikulum adalah aktivitas dan kegiatan belajar yang direncanakan, diprogramkan bagi peserta didik dibawah bimbingan sekolah, baik dalam maupun diluar sekolah. Menurut Posner (1992) dalam Muhammad Nuh (2013: 32) kurikulum adalah seluruh pengalaman yang direncanakan yang akan dialami oleh siswa dalam seluruh proses pendidikan disekolah; sehingga tujuan pendidikan tercapai. Pengalaman itu mengandung beberapa hal antara lain: 1. Pengalaman itu menyangkut pengalaman kurikuler dikelas, dan pengalaman kokurikuler, dan pengalaman luar sekolah (ekstrakulikuler). 2. Pengalaman itu berkaitan dengan konteks, filsafat, isi, pengaturan isi, metode, dan evaluasi. 3. Pengalaman itu hanya akan jalan bila beberapa hal berikut disertakan/dilibatkan: * Guru * Fasilitas * Infrastruktur * Buku * Situasi dan suasana sekolah Menurut Mida Latifatul M (2013: 15) pengertiuan kurikulum seperti yang dijabarkan diatas dianggap terlalu sederhana, karena pada dasarnya istilah kurikulum tidak hanya terbatas pada sejumlah mata pelajaran saja, tetapi mencakupsemua pengalaman belajar (learning experiences) yang dialami secara langsung oleh siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya. Pendekatan saintifik dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut: a. Mengamati (observasi) Mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran b. Menanya Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. c. Mengumpulkan Informasi Tindak lanjut dari bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. d. Menalar Memproses informasi yang sudah dikimpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dari kegiatan mengumpulkan. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Perubahan yang terjadi pada Kurikulum 2013 dari kurikulum sebelumnya. Bertujuan dalam rangka menerapkan pendidikan yang bernutu untuk diterapkan pada sekolah/ madrasah. Agar mencetak peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. B. Saran Bagi pengajar yang terpenting adalah mengubah mindset dan memahami serta mampu menerapkan pendekatan dan model pembelajaran yang diterpkan pada Kurikulum 2013 ini dengan baik, sesuai dengan standar proses yang telah dipersyaratkan sesuai dengan peraturan yang diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. DAFTAR PUSTAKA Kurikulum 2013 : lamgkah-langkah umum pembelajaran dengan pebdekatan saintifik (2) Hosnan, M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual. Ghalia Indonesia : Jakarta